Jangan hanya tergiur dengan berbagai keuntungannya, anda juga harus cerdas mengenali risikonya. Investasi properti. Tentu anda menyadari bahwa tidak ada investasi yang tanpa risiko. Semakin tinggi risiko, semakin tinggi pula keuntungannya. Jika anda tidak waspada, risiko dalam investasi properti tak bisa anda kendalikan.
Untuk itu mari kita mengenali risiko investasi properti, hal inilah yang membedakan seorang investor dengan seorang gambler (spekulan). Seperti yang sudah disebutkan tadi bahwa, jangan mudah tergiur oleh iming-iming investasi properti yang memiliki banyak celah untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Misalnya iming-iming pasar yang selalu bergairah, harga properti yang selalu naik atau lingkungan berkembang. Sebab itulah investor dituntut untuk selalu berpikir realistis dan tidak emosional.
Berikut ini beberapa risiko investasi properti yang harus anda cermati dan pertimbangkan, kala anda hendak membeli sebuah properti untuk diinvestasikan:
1. Likuiditas
Investasi properti tidak termasuk investasi yang likuid, artinya bagi orang yang membutuhkan uang cepat atau ingin memutar uang secara cepat, properti sangat jelas bukan pilihan yang tepat untuk berinvestasi. Keinginan yang terburu-buru dalam membuat penilaian dan pengambilan keputusan akan menjadi buruk.
2. Overvalued
Properti di suatu daerah seringkali mengalami lonjakan nilai secara tiba-tiba dan sangat cepat. Biasanya terjadi pembelian massal oleh orang-orang berkocek tebal, yang justru semakin mempercepat lagi kenaikan harga properti atau tanah di daerah tersebut. Risiko yang berbahaya ialah jika anda membeli property yang nilainya sudah berada di puncak batas kenaikan harga/ overvalued.
Anda membelinya dengan harga sangat tinggi dengan harapan harganya bisa naik lagi. Namun ternyata harga properti tersebut justru flat bertahun-tahun dan sulit untuk dijual lagi kecuali di bawah harga pasar. Ini buruk karena modal yang anda keluarkan tidak sebanding dengan gain yang didapat.
3. Kondisi Ekonomi
Ketika kondisi ekonomi sedang membaik, inflasi rendah dan kurs rupiah menguat. Banyak investor yang menganggap itulah saat yang tepat untuk membeli sebuah properti dengan alasan permintaan hunian juga meningkat. Bagi investor khususnya, perlu diingat bahwa ketika kondisi ekonomi membaik, harga properti bisa jadi naik setinggi-tingginya bahkan sampai kenaikan yang tidak wajar (anomali pasar).
Resikonya serupa dengan overvalued. Bisa jadi ketika ekonomi menurun seiring permintaan masyarakat juga menurun, demand terhadap properti pun akan merosot dengan tajam. Itulah saat yang kerap dimanfaatkan oleh para investor kawakan untuk memborong properti yang berpotensi melesat jika ekonomi membaik nantinya. Kondisi ekonomi sangat mempengaruhi supply, demand, serta daya beli.
4. Properti Tanpa Tanah
Seorang investor pasti sangat memahami bahwa harga yang meningkat sebenarnya adalah harga atau nilai tanah-bukan nilai properti yang berada diatasnya. Inilah mengapa hampir semua properti, kecuali landed house, risikonya lebih besar. Nilai tanahlah yang membuat catatan investasi anda meningkat, sebagus apapun suatu properti atau daerah, nilai atau harga bangunan dari properti tersebut akan selalu menurun serta akan menelan banyak biaya untuk pemeliharaan dan renovasi. Untuk itu penting menjaga kualitas properti agar anda bisa tetap mendapatkan keuntungan, dan konsumen tidak akan ragu untuk membeli properti anda.
Intinya, tetap waspada adalah cara terbaik dalam investasi properti. Seorang investor harus mampu mengendalikan dan mencari solusi atas risiko yang dihadapi. Dalam berinvestasi perhatikan tanah dan lingkungan sekitarnya. Pertimbangkan kondisi ekonomi negara dan dampaknya terhadap pasar properti. Satu lagi, jangan terpancing dengan arus keramaian orang-orang yang sedang memborong properti di suatu daerah.
Source: Property-In Magz
Real Estate Bandung Indonesia
Untuk itu mari kita mengenali risiko investasi properti, hal inilah yang membedakan seorang investor dengan seorang gambler (spekulan). Seperti yang sudah disebutkan tadi bahwa, jangan mudah tergiur oleh iming-iming investasi properti yang memiliki banyak celah untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Misalnya iming-iming pasar yang selalu bergairah, harga properti yang selalu naik atau lingkungan berkembang. Sebab itulah investor dituntut untuk selalu berpikir realistis dan tidak emosional.
Berikut ini beberapa risiko investasi properti yang harus anda cermati dan pertimbangkan, kala anda hendak membeli sebuah properti untuk diinvestasikan:
1. Likuiditas
Investasi properti tidak termasuk investasi yang likuid, artinya bagi orang yang membutuhkan uang cepat atau ingin memutar uang secara cepat, properti sangat jelas bukan pilihan yang tepat untuk berinvestasi. Keinginan yang terburu-buru dalam membuat penilaian dan pengambilan keputusan akan menjadi buruk.
![]() |
| sumber: google |
2. Overvalued
Properti di suatu daerah seringkali mengalami lonjakan nilai secara tiba-tiba dan sangat cepat. Biasanya terjadi pembelian massal oleh orang-orang berkocek tebal, yang justru semakin mempercepat lagi kenaikan harga properti atau tanah di daerah tersebut. Risiko yang berbahaya ialah jika anda membeli property yang nilainya sudah berada di puncak batas kenaikan harga/ overvalued.
Anda membelinya dengan harga sangat tinggi dengan harapan harganya bisa naik lagi. Namun ternyata harga properti tersebut justru flat bertahun-tahun dan sulit untuk dijual lagi kecuali di bawah harga pasar. Ini buruk karena modal yang anda keluarkan tidak sebanding dengan gain yang didapat.
![]() |
| sumber: google |
3. Kondisi Ekonomi
Ketika kondisi ekonomi sedang membaik, inflasi rendah dan kurs rupiah menguat. Banyak investor yang menganggap itulah saat yang tepat untuk membeli sebuah properti dengan alasan permintaan hunian juga meningkat. Bagi investor khususnya, perlu diingat bahwa ketika kondisi ekonomi membaik, harga properti bisa jadi naik setinggi-tingginya bahkan sampai kenaikan yang tidak wajar (anomali pasar).
Resikonya serupa dengan overvalued. Bisa jadi ketika ekonomi menurun seiring permintaan masyarakat juga menurun, demand terhadap properti pun akan merosot dengan tajam. Itulah saat yang kerap dimanfaatkan oleh para investor kawakan untuk memborong properti yang berpotensi melesat jika ekonomi membaik nantinya. Kondisi ekonomi sangat mempengaruhi supply, demand, serta daya beli.
![]() |
| sumber: google |
4. Properti Tanpa Tanah
Seorang investor pasti sangat memahami bahwa harga yang meningkat sebenarnya adalah harga atau nilai tanah-bukan nilai properti yang berada diatasnya. Inilah mengapa hampir semua properti, kecuali landed house, risikonya lebih besar. Nilai tanahlah yang membuat catatan investasi anda meningkat, sebagus apapun suatu properti atau daerah, nilai atau harga bangunan dari properti tersebut akan selalu menurun serta akan menelan banyak biaya untuk pemeliharaan dan renovasi. Untuk itu penting menjaga kualitas properti agar anda bisa tetap mendapatkan keuntungan, dan konsumen tidak akan ragu untuk membeli properti anda.
![]() |
| thegreenkosambi.com |
Intinya, tetap waspada adalah cara terbaik dalam investasi properti. Seorang investor harus mampu mengendalikan dan mencari solusi atas risiko yang dihadapi. Dalam berinvestasi perhatikan tanah dan lingkungan sekitarnya. Pertimbangkan kondisi ekonomi negara dan dampaknya terhadap pasar properti. Satu lagi, jangan terpancing dengan arus keramaian orang-orang yang sedang memborong properti di suatu daerah.
Source: Property-In Magz
Real Estate Bandung Indonesia





